Saturday, 20 March 2021

Pengalaman Operasi Caesar di Era Pandemi

Lama saya tidak muncul di blog ini selama hamil. Memang ya hamil itu cukup ribet apalagi di era pandemi begini. Saya bahkan hampir tidak pernah keluar rumah selain untuk olahraga atau kontrol ke dokter. Tapi selain hamil (pengalaman hamil selama pandemi akan saya ceritakan di post lain), pengalaman yang tidak kalah menegangkan adalah operasi Caesar.

Sebenarnya, saya sudah berencana untuk melahirkan secara normal. Bahkan dokter kandungan saya juga sudah mengusahakan agar bisa lahir secara normal, namun ternyata ada beberapa hal yang diluar kendali manusia sehingga saya harus melakukan operasi Caesar secara mendadak. Iya secara mendadak karena memang diluar jadwal dan jauh dari hari perkiraan lahir. Lalu apa yang menyebabkan saya harus menjalani operasi Caesar secara mendadak dan bagaimana prosesnya?



Awalnya saya hanya berencana untuk kontrol rutin ke dokter kandungan karena saya habis melakukan tes urin akibat kaki bengkak. FYI, sebelum ke dokter, saya melakukan pijat oyok (tahukan pijat tradisional untuk membenarkan posisi janin). Sebenarnya bukan kemauan saya untuk melakukan pijat ini, hanya saja si tukang pijat yang dipanggil ibu saya bersikeras ingin membenarkan posisi janin saya. Jadilah pijat ini menjadi salah satu penyebab mengapa saya menjalani operasi Caesar secara mendadak dan tanpa ada pembukaan sebelumnya.

Beberapa jam setelah pijat oyok tersebut saya tidak merasakan ada hal yang aneh dengan bayi dalam perut. Hanya saja ketika saya berjalan ke ruang dokter (dari parkiran ke ruang dokter) saya merasakan sakit yang cukup parah di bagian perut bawah. Kemudian saya bilang ke dokter kandungan dan di USG. Benar saja. Posisi janin dan placenta yang semula bagus menjadi bergeser tidak karuan. Parahnya lagi janin dalam perut juga mengalami detak jantung cepat yang menandakan bayi sedang stress. Sehingga dokter memutuskan agar saya dirawat inap saat itu juga. Sebenarnya dokter belum memutuskan untuk operasi atau tidak, saya hanya dirujuk ke UGD untuk rawat inap saja agar detak jantung bayi bisa normal kembali.

Sebelum Operasi

Saat di UGD, saya diminta untuk melakukan serangkaian tes, termasuk tes darah untuk berbagai keperluan (termasuk swab tes), tes detak jantung bayi, hingga foto thorax. Saat tes detak jantung bayi, saya melihat detak jantungnya ada dikisaran yang tinggi dan bahkan perawat juga mengatakan hal yang sama. Setelah melakukan semua tes yang dibutuhkan (butuh waktu sekitar 3-4 jam), kemudian saya dipindahkan  ke ruang perawatan. Sekitar jam 11 malam, saya diberi kabar oleh perawat kalau saya akan menjalani operasi Caesar esok hari pukul enam pagi. Yes, pukul enam pagi karena dokter juga ada jadwal praktek rutin setelahnya.

Kaget? Iya. Takut? Enggak. Bukan saya enggak takut, tapi enggak sempat takut. Tidak ada waktu untuk takut. Hanya selang beberapa jam lagi saya harus operasi dan saat itu juga saya harus puasa. Padahal saya juga belum makan dari sore hari. Perasaan saya dan suami campur aduk malam itu. Apalagi pasien hanya boleh ditunggu satu orang saja karena masa pandemi ini.

Sebelum puasa, saya hanya sempat makan sepotong roti sobek dan minum air putih saja. Suami bahkan sudah hilang selera makan melihat kondisi saya dan janin. Semalaman kami berdua tidak bisa tidur karena tegang dan takut. Hanya bisa saling pegang tangan dan menguatkan satu sama lain. Tepat pukul lima pagi saya diberitahu perawat untuk mandi karena harus segera masuk ruang operasi.

Saya mandi sebentar dan kemudian mengenakan baju operasi. Anehnya setelah semalaman tidak tidur, menjelang operasi saya menjadi super mengantuk dan bahkan sempat tertidur ketika menunggu giliran. Saat masuk ruang operasi, yang saya rasakan adalah rasa dingin yang amat sangat. Semuanya serba dingin. Sangat dingin hingga bisa membuat rasa ngantuk langsung hilang begitu saja. Kemudian ada dokter kandungan, dokter anastesi, dokter anak, bidan, dan perawat mengelilingi saya. Semuanya bekerja dengan sangat cepat. Saking cepatnya saya merasa tidak ada waktu untuk merasa gugup.

Setelah Operasi

Proses operasi berlangsung cepat. Meskipun pandangan saya ditutupi dengan kain, namun saya bisa melihat seluruh prosesnya dari pantulan lampu yang ada diatas kepala. Ngeri? Iya. Tapi semuanya sirna ketika saya melihat jabang bayi sudah lahir dengan perjuangan keras para dokter dan perawat. Lega akhirnya semua sudah selesai. Sekarang tinggal pemulihan saja.

Meskipun tinggal pemulihan, ternyata proses ini lebih menegangkan daripada operasi itu sendiri. Saya dan suami sama-sama awam tentang merawat bayi. Ya meskipun sudah belajar sedikit dari YouTube dan artikel, namun semuanya tidak sama ketika sudah berhadapan langsung dengan bayi yang benar-benar baru lahir. Ditambah lagi saya masih diinfus dan luka bekas operasi Caesar masih sangat amat sakit serta selang kateter yang masih terpasang. Merawat bayi dengan keadaan seperti itu rasanya sangat campur aduk. Tidak ada ibu atau mertua atau siapapun yang bisa membantu. Benar-benar murni hanya saya dan suami.

Inisiasi Menyusui Dini

Proses inisiasi menyusui dini menjadi jalan terjal saya dan bayi untuk pertama kalinya. Kondisi puting datar dan asi yang belum keluar membuat bayi saya mengalami dehidrasi. Dua hari bayi tidak mendapatkan asupan asi yang memadai. Sedangkan saya dan pihak RS sudah sepakat untuk tidak memberikan susu formula. Pada hari kedua, infus dan selang kateter sudah dilepas namun saya masih susah untuk bergerak. Sakit atau tidak bekas operasi, saya harus bangkit untuk membantu suami merawat bayi kami.

Pengalaman operasi caesar di masa pandemi yang sangat mendadak ini menjadi momen yang tidak terlupakan. Semuanya berlangsung sangat cepat hingga tidak sempat merasa takut. Tapi selain itu saya sudah lega karena bayi bisa lahir dengan selamat tanpa ada efek akibat denyut jantungnya yang cepat. Proses check up sebelum operasi yang rumit (termasuk rapid tes, tes darah, foto thorax) membuat waktu menunggu semakin mendebarkan. Bagi teman-teman yang sedang hamil ataupun menjelang persalinan di masa pandemi ini, tetap semangat dan selalu jaga kesehatan. Sebisa mungkin periksa kehamilan pada satu tempat atau dokter yang sama. 


0 comments:

Post a comment