Friday, 17 May 2019

Day 5 – Resep Opor Ayam yang Selalu Ada Ketika Lebaran



Semua orang pasti setuju bila opor ayam adalah salah satu makanan wajib ketika lebaran. Disantap dengan ketupat, opor ayam ini jelas menjadi favorit banyak orang. Tapi sebagian orang merasa enek dengan opor ayam karena kuah santan yang kental. Keluarga saya juga tipe yang kurang suka dengan kuah santan kental. Apalagi ayah dan suami saya pasti kalau makanan berkuah yang dihabiskan dahulu adalah kuahnya. Jadi, kalau masak apapun kuahnya harus banyak termasuk opor ini.
Resep opor ayam yang saya buat ini mungkin sedikit berbeda dengan opor ayam yang biasanya karena menggunakan kuah santan yang banyak dan diberi tambahan tahu. Apa opor ayam dengan tahu dan kentang? Enggak umum ya, tapi enak lho. Yuk langsung simak bahan dan cara membuatnya.


Opor Ayam Segar

Bahan:
  • 1kilogram ayam
  • 1 kotak tahu, goreng setengah matang
  • kentang secukupnya (opsional)
  • santan kental dan santan cair secukupnya

Bumbu-bumbu:

  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Kemiri
  • Ketumbar
  • Jintan
  • Merica
  • Daun salam
  • Daun jeruk purut
  • Lengkuas, geprek
  • Serai, geprek
  • Gula, garam, penyedap rasa secukupnya

Cara membuat:
  1. Rebus ayam hingga matang, buang airnya.
  2. Blender halus bawang merah, bawnag putih, kemiri, ketumbar, jintan, dan merica. Kemudian tumis bumbu hingga harum dan tidak ada aroma mentah.
  3. Setelah bumbu matang, masukkan ayam, tahu, dan kentang. Tuang santan encer secukupnya.
  4. Masak hingga bumbu meresap dan kuah berkurang.
  5. Tambahkan santan kental, gula, garam, dan penyedap. Masak hingga santan mendidih.
  6. Sajikan selagi hangat dengan ketupat atau nasi.


Gimana mudah kan membuat opor ayam ala saya? Kalau instruksinya kurang jelas, bisa lihat videonya di Youtube channel Little Kitchen Diary ya. Jangan lupa subscribe dan like juga ya.
I’ll see you on the next post.

Friday, 10 May 2019

Day 4 – Resep Sayur Lodeh Kacang Panjang dan Tahu Praktis – Cocok untuk Pemula dan Anak Kos



Awal saya belajar masak itu saat sering bantuin ibuk masak. Kemudian terus berlanjut ketika kos dan harus masak sendiri agar lebih irit. Jadi kalau dipikir-pikir, saya bisa masak itu enggak instan. Sering kok masak gagal, gosong, rasa enggak enak, dan sebagainya. Tapi yah namanya belajar, meski gagal ya harus coba lagi besok-besok.

Nah, salah satu resep favorit saya adalah sayur lodeh yang super gampang dan simpel. Resep ini juga favorit keluarga saya karena rasanya ringan, enggak terlalu banyak bumbu, tapi tetap sedap. Yha, maklum keluarga saya tipe yang tidak suka masakan dengan bumbu atau santan pekat. Jadi ya sayur lodeh model praktis ini jadi andalan banget. Selain gampang, sayur lodeh ini juga cocok untuk kamu yang masih belajar masak ataupu anak kos. Yuk simak bahan dan cara membuatnya.

Sayur Lodeh Kacang Panjang dan Tahu

Bahan:
  • Kacang panjang (banyaknya sesuaikan dengan kebutuhan)
  • Tahu putih
  • santan encer dan santan kental
Bumbu:
  • bawang merah
  • bawang putih
  • cabai rawit, cabai merah, cabai hijau
  • lengkuas
  • daun salam
  • gula, garam, penyedap

Cara membuat.
  1. Potong kacang panjang sekitar 2 cm atau dua ruas jari.
  2. Potong kotak-kotak tahu dan goreng setengah matang.
  3. Iris bawang merah, bawang putih, dan aneka cabai.
  4. Panaskan minyak dan tumis bawang-bawangan beserta cabai. Kemudian masukkan lengkuas dan daun salam. Kemudian masukkan santan encer
  5. Masukkan kacang panjang dan tahu. Biarkan mendidih.
  6. Setelah mendidih dan kacang panjang setengah matang, masukkan santan kental. Jangan lupa bumbui dengan gula, garam, dan penyedap rasa.
  7. Sajikan sayur lodeh bila sudah mendidih namun jangan sampai santan pecah.


Gimana? Gampang banget kan? enggak perlu ulek atau blender. Cukup iris-iris dan tumis, jadi deh. Oh iya, untuk instruksi yang lebih lengkap bisa lihat di channel YouTube Little Kitchen Diary ya. Dan jangan lupa Subscribe juga ya.

I’ll see you on the next post. bye.

Thursday, 9 May 2019

Day 2 – Rumah Menjadi Tempat Buka Puasa Favorit


Tema BPN Ramadhan Challenge kali ini adalah tempat buka puasa favorit. Sepele yah, tapi entah kenapa bagi saya tema ini susah banget. Makanya belum upload-upload padahal sudah lebih dari deadline 2 hari. Saya dan keluarga sebenarnya sangat jarang sekali buka puasa di luar rumah. Apalagi ayah dan ibu saya benar-benar enggak suka buka puasa selain di rumah.


Kesannya tuh emang kayak pelit yah, masa enggak pernah buka puasa di luar rumah. Yha pernah sih cuma lebih seringnya buka puasa di rumah aja. Bagi keluarga saya, buka puasa di rumah itu ribet karena kami punya kebiasaan setelah takjil sholat dulu kemudian baru makan. Nah, kalau buka puasa diluar rumah tuh jadi ribet kalau mau sholat dahulu sebelum makan karena biasanya perlu pindah tempat dari tempat makan ke masjid kemudian balik lagi. Tapi selain alasan ribet, ada beberapa alasan lain mengapa rumah harus menjadi tempat buka puasa favoit keluaga.
  • Bisa sholat. Saya kalau lagi buka puasa di luar gitu suka bingung dengan sholatnya. Kan enggak semua tempat makan menyediakan ruang sholat, kalaupun ada biasanya juga ruame buanget. Padahal kebiasaan saya sukanya setelah takjil sholat baru kemudian buka makan.
  • Enggak antri. Yha namanya juga waktu buka puasa dan semua orang ingin buka juga pasti tempat makan jadi super antri. Tapi kalau di rumahkan bisa langsung hap makan tanpa perlu antri.
  • Jaminan makan enak. Entah kenapa ya kalau buka puasa di rumah itu makanannya selalu terasa enak. Padahal menunya juga sederhana, tapi rasanya enak banget.

Jadi kalau ditanya tempat buka puasa favorit, pasti saya jawabnya di rumah. Tapi bukan berarti enggak pernah buka puasa di luar ya. Cuma sangat jarang sekali sampai enggak punya tempat favorit. Kalau kamu punya tempat buka puasa favorit? Share ya dikomentar.

I’ll see you on the next post. Bye.


Monday, 6 May 2019

Day 1 - Yuk, Buka Puasa Secara Lebih Sehat dengan Cara Ini


Alhamdulilah, hari ini puasa hari pertama.

Saat puasa pasti sudah kebayang nanti sore ingin buka puasa dengan es ini dan makanan itu dengan porsi sumo tentu saja. Ada yang saat puasa fokusnya dengan menu buka puasa? Ada? Astagfirullah, saya juga. Hehehe

Selain beribadah, berpuasa adalah salah satu cara untuk membersihkan racun atau detox tubuh. Tapi kalau saat berbuka kemudian kalap dan makan dengan porsi sumo, apakah manfaat detox bisa tetap didapat? Yha tentu saja tidak. Makan terlalu banyak saat buka puasa hanya akan menyebabkan tubuh menjadi tidak nyaman. Bila badan menjadi tidak nyaman, ibadah juga akan terganggu kan.

Jadi, apakah saat berbuka puasa harus dengan menu diet super sedikit? Tidak juga. Yang terpenting saat berbuka puasa adalah pilihan menu dan pola makan yang benar. Sehingga puasa yang dijalani seharian bisa memberikan manfaat untuk tubuh. Berikut ini beberapa cara sehat untuk buka puasa yang bisa kamu lakukan.

Awali dengan air putih

Seperti yang sudah kita hafal diluar kepala bila berbuka sebaiknya dengan yang manis. Faktanya, makanan yang sebaiknya dikonsumsi setelah berpuasa adalah air putih. Makanan atau minuman manis pada saat perut masih kosong setelah puasa akan menyebabkan lonjakan gula darah. Selain itu, makanan dan minuman manis juga akan menyebabkan perut terasa penuh dan kamu merasa semakin haus. Sebaiknya awali berbuka dengan segelas air putih sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah.

Air hangat dengan perasan lemon

Air hangat dengan perasan lemon setelah puasa? Gila ya? Enggak. Faktanya air hangat dan perasan lemon sebelum mengkonsumsi apapun setelah puasa bisa menyeimbangkan kadar asam lambung. Tapi membuatnya juga harus benar yaitu siapkan air hangat kemudian masukkan perasan lemon, kira-kira satu sendok makan.

Makanan dan minuman manis secukupnya

Makanan dan minuman manis memang termasuk menu yang wajib ada saat berbuka puasa. Kolak, es buah, es campur, es teler dan kawan-kawannya (duh saya jadi ngiler juga nulisnya) memang segar diminum saat berbuka puasa. Kamu tetap boleh kok mengkonsumsi makanan ini, tapi jangan berlebihan porsinya. Jangan dianggap bila makanan manis untuk mengembalikan energi karena sebenarnya makanan dan minuman manis menyebabkan lonjakan gula darah dalam tubuh. Sehingga harus dikonsumsi secukupnya saja saat berbuka puasa.

Batasi gorengan

Selain minuman manis, gorengan juga selalu menggoda saat buka puasa. Bahkan menu gorengan ini menjadi favorit keluarga saya saat berbuka puasa. Boleh saja makan gorengan saat buka puasa, namun juga dengan porsi yang cukup dan tidak berlebihan. Jangan karena lapar, terus kamu habis bakwan sayur dan tahu isi satu piring. Satu atau dua potong sudah cukup karena kalau makan gorengan terlalu banyak juga akan menyebabkan rasa begah dan tenggorokan terasa berminyak.

Jangan lupa sayur dan buah

Meskipun sedang berpuasa, namun sayur dan buah tetap harus dikonsumsi. Kekurangan sayur dan buah akan membuat pencernaan mampet dan akibatnya susah BAB. Gak jadi sehat dong kalau susah BAB.

Porsi makan seimbang

Saat buka puasa rasanya memang ingin makan nasi sebakul. Tapi tahan dulu. Meskipun kamu lapar bukan main, tetap makan dengan porsi yang seimbang antar karbohidrat, protein, lemak, dan sayur agar pencernaan tetap lancar dan energi tetap terjaga.

Baca juga: Cerita Hijrahku

Pola makan yang benar

Hayo siapa disini yang waktu berbuka langsung makan besar? Heem, itu adalah pola buka puasa yang salah. Sebaiknya saat berbuka puasa awali dengan air putih kemudian air lemon. Setelah itu baru makan camilan dan minuman manis secukupnya. Nah, setelah ini jangan ngegas langsung makan, tapi sholat Magrib dahulu. Setelah sholat Magrib baru makan secukupnya dan kemudian pergi sholat Tarawih. Bila masih lapar setelah sholat tarawih, boleh lah ya makan lagi sedikit atau makan camilan. Jangan lupa minum air yang banyak juga agar tidak dehidrasi.

Ribet ya, masalah buka puasa aja kok pakai diatur-atur. Memang ribet, tapi saya sudah pernah mencoba kalau buka puasa dengan cara ini dan cara yang ngegas langsung makan sebakul nasi. Kalau buka puasa langsung makan banyak, badan tuh rasanya jadi kayak pegal-pegal (Ibu saya bilangnya ngethok-ngethok) seperti nyeri-nyeri dipersendian dan tulang yang bikin badan mendadak (TEKLEK) lemas dan lunglai.

Coba deh bikin perbandingan cara buka puasa yang ribet ini dengan yang langsung ngegas. Terus cerita di komentar ya pengalamannya bagaimana. Kepo saya tuh.

Sekian postingan pertama untuk BPNRamadanChallenge yang diadakan oleh Blogger Perempuan. Semoga bisa tetap lancar ngeblog sampai 30 hari kedepan. 

I’ll see you on the next post

Wednesday, 1 May 2019

Raih Manfaat #AyoHijrah dan Jadi Lebih Baik Bersama Bank Muamalat

Hijrah atau move on – kalau kata anak gaul – mungkin termasuk dalam salah satu hal yang pernah tidak terpikir oleh saya. Biasa karena merasa masih muda, sehingga belum perlu untuk melakukan perubahan. Tapi itu adalah pikiran saya saat masih usia 20 tahunan. Sekarang? Sudah beda lagi ceritanya. Tapi saya mau berbagi perjalanan hijrah saya dari yang dulu hanya punya pikiran hepi-hepi duniawi ke pribadi sekarang yang Insyaallah lebih baik dari yang dulu.

Post ini akan sedikit lebih panjang, jadi jangan lupa siapkan camilan dan minum biar anteng bacanya. Yuk lanjut baca ya.

Aku dan Kisah Hijrahku

Cerita hijrahku berawal ketika lebaran sekitar tahun 2011. Saat itu, saya dan keluarga hendak berkunjung ke rumah nenek. Dan dari semua anggota keluarga dan saudara, hanya saya sendiri yang belum berhijab. Ibu saya sudah menyuruh untuk mengenakan hijab saat lebaran tahun itu, tapi saya menolak. Alasannya? Klise sih karena saya masih belum merasa perlu pakai hijab kala itu.

Entah kenapa dari dalam hati saya belum ada sama sekali keinginan untuk menggunakan hijab ataupun sekedar memperbaiki ibadah dan pribadi. Mungkin ini yang dinamakan dengan belum dapat hidayah.

Saking enggannya pakai hijab, saya sempat perpikir bila akan menggunakan hijab setelah menikah saja. Padahal saya sering mendengar bila banyak orang yang menyesal karena tidak menyegerakan hijrah karena perihal usia dan kematian tidak ada yang pernah tahu. Tapi tetap saja, saya masih kekeuh dengan kepala dan hati saya yang sekeras batu. Bahkan ketika disindir sindir sama saudara yang lain, saya seperti tidak mendengar apa-apa.



Ibu saya sih orangnya selow. Kalau saya bilang tidak mau ya tidak akan memaksa. Beliau selalu berpikir bila memang saatnya, saya akan berubah dengan sendirinya karena Allah yang akan merubah hati saya.

Tiga tahun kemudian, Allah menjawab doa saya dan saya menikah denga pria yang sudah saya pacari selama 4 tahun. Alhamdulilah semua hal berjalan dengan lancar, tapi tetap saya masih menolak untuk berhijab. Lho, bukankah tadi saya bilang akan berhijab bila sudah menikah? Memang saya bilang seperti itu, namun kenyataannya saya masih kekeuh untuk tidak berhijab. Alasan saya kali ini karena saya maunya nanti kalau sudah pakai hijab enggak mau copot lagi. Saya enggak mau seperti teman-teman saya yang pakai dan copot jilbab seperti tidak ada beban.

Karena alasan ini saya menunda kembali untuk berhijab. Bagi beberapa orang, saya terlihat terlalu banyak alasan. Tapi, ya bagaimana lagi waktu itu saya masih berpikir bila berhijab nantinya akan menghambat karir, pergaulan, dan sebagainya.

Hingga pada suatu saat, saya membaca sebuah postingan dakwah di Instagram yang lewat begitu saja di kolom explorer. Saya juga lupa nama akunnya apa. Tapi inti dari postingan yang saya baca tersebut adalah bila seorang wanita tidak mau menutup auratnya (dengan hijab) serta melakukan dosa lain, maka nanti diakhirat ayah, suami, dan saudara laki-laki akan ikut menanggung dosa wanita tersebut.
Dari postingan itulah, saya merasa tertampar. Apakah nanti bila diakhirat suami, ayah, dan saudara laki-laki saya juga harus dihukum karena saya tidak berhijab? Saya tidak mau hal tersebut terjadi. Akhirnya saya memutuskan berhijab setelah meminta izin pada suami.

Setelah bertahun-tahun saya menggunakan hijab, memang banyak hal baik yang saya rasakan, istilahnya up and down. Namun pada suatu hari saya mengetahui bila hadis tentang hijab diatas ternyata bukan hadis yang shahih atau sah. Memang seorang ayah bertanggung jawab atas anaknya hingga menikah, kemudian setelah menikah suami yang bertanggung jawab. Hal ini bukan berarti ayah dan suami akan menanggung dosa seorang wanita (anak/istri) karena sebenarnya setiap pribadi akan menanggung dosa masing-masing.

Meskipun kisah hijrah saya dari yang tidak berhijab menjadi berhijab dipelopori oleh sebuah hadis yang tidak shahih, tapi saya tidak menyesal. Bahkan dari saat pertama berhijab hingga sekarang belum pernah copot-pasang hijab. Satu hal yang saya syukuri adalah saya hijrah berdasarkan kemauan saya sendiri, bukan karena paksaan dari orang lain.

Kenapa harus hijrah?

Beberapa tahun belakangan ini, fenomena hijrah menjadi semacam trend, terlebih dikalangan orang muslim. Mungkin bukan saya saja yang sempat terpikir mengapa harus hijrah? Apakah harus hijrah karena trend atau memang niat dari hati? Apakah hijrah hanya demi eksistensi tapi tidak paham dengan substansinya? Well, that is the question, actually.

Berbicara masalah hijrah, sebenarnya sudah tahu belum sih apa itu pengertian hijrah yang sebenarnya? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, ada 2 pengertian hijrah, yaitu:
“Hijrah (n) Perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah” 
“Hijrah (v) berpindah atau menyingkir sementara waktu dari suatu tempat ke tempat yang lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya)”
Bila dilihat dari segi makna, hijrah berarti berpindah tempat. Namun hijrah juga bisa dimaknai sebagai perubahan dari hal yang buruk ke hal baik. Perubahan yang dimaksud bisa dalam berbagai hal seperti personal, gaya hidup, dan sebagainya. Selain itu, alasan setiap pribadi untuk hijrah juga berbeda, namun secara umum orang hijrah karena mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya pernah membaca quote dari sebuah drama Korea, yaitu “Orang bisa mati bila berubah secara drastis”. Quote ini berbicara bahwa orang tidak mudah berubah (termasuk hijrah juga), dan biasanya orang yang mendadak berubah adalah orang yang hendak mati. Sama halnya dengan perjalan hijrah saya, dan orang lain yang jelas tidak mudah. Namun apapun hambatannya tetap dilewati dan mantap berhijrah.


Memaknai hijrah dan menjadi lebih baik

Bagi saya, perjalanan hijrah dan semua perubahannya bukan hal yang mudah. Ada banyak orang yang memandang niat hijrah saya ini sebagai sesuatu yang receh. Tapi dasarnya saya memang (PURA-PURA) budek, jadi saya tidak ambil pusing. Saat mantap berhijrah, ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya. Selain konsisten memakai hijab, ada hal lain yang harus saya perbaiki seiring dengan niat hijrah ini. Maklum, saya tidak mau nanti ada orang yang bilang bila saya berhijab tapi kelakuan kok anu.

Bagi saya hijrah bukan perkara dari tidak berhijab menjadi berhijab atau seberapa cekak celanamu atau seberapa panjang (dan lebat) jenggotmu. Tapi hijrah mempunyai makna yang jauh lebih luas daripada penampilan saja. Bila memang sudah memutuskan hijrah, kelakuan, cara bicara, gaya hidup, hingga intensitas ibadah harus berubah. Ya masa sih sudah berhijab tapi mainnya masih dugem ke club malam dan pulang dini hari.

Ketika sudah memutuskan #ayohijrah, berarti sudah siap untuk mengubah gaya hidup. Dari yang awalnya suka telat bangun subuh bisa bangun tepat waktu, yang biasanya sholat masih on-off, bisa lebih konsisten lagi sholatnya, yang masih suka ghibah, bisa kurang-kurangi lah nyinyir di Instagram artis, dan sebagainya.

#Ayohijrah dalam aspek kehidupan

Seperti yang sudah saya katakan, bila seseorang memang sudah memutuskan untuk hijrah, perubahan yang dilakukan tidak hanya pada sebatas penampilan saja tapi juga pada semua aspek kehidupan. Itulah mengapa hijrah itu hanya untuk orang yang kuat (mental). Tapi kalau ingin menjadi tetap baik ya harus diniati dan dilakukan.
“Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q.S Ar Rad: 11
Sebenarnya perubahan apa saja sih yang bisa dilakukan ketika sudah memutuskan berhijrah? Saat memutuskan berhijrah, setiap orang mempunyai preferensi hal apa saja yang ingin diubah. Yang jelas sekecil apapun perubahan yang dilakukan, pasti berdampak besar pada hidup. Kalau saya, ada beberapa aspek yang saya ubah ketika memutuskan untuk hijrah.
  • Kehidupan personal – Satu hal yang perlu saya ubah dari kehidupan personal adalah tentang ibadah. Kualitas dan ketepatan waktu saya ubah dari yang kurang taat menjadi lebih taat. Saya tidak mau menjadi orang yang beribadah seperti Allah membutuhkan ibadah saya. Padahal saya yang butuh beribadah pada Allah. Setelah memutuskan untuk berhijab, saya juga ingin ibadah semakin rajin. Sehingga hijab bukan hanya sebagai penutup kepala saja tapi ibadahnya nol besar.
  • Lifestyle – Alhamdulilah, saya yang sejak awal berasal dari keluarga agamis, tidak mempunyai lifestyle yang kurang baik. Saya tidak pernah dugem, minum alkohol, merokok, nongkrong hingga larut malam pun saya tidak pernah. Tapi diluar dari hal tersebut, yang perlu saya ubah adalah ghibah. Saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak ghibah dan julid pada orang lain. Malulah ya, masa sudah pakai hijab, sholat dibenerin, eh tapi masih suka ghibah dan julid.
  • Keuangan – Selain dua aspek tersebut, keuangan juga menjadi prioritas saat hijrah. Saat memutuskan berhijrah, saya dan suami memutuskan untuk stop berhutang yang mengambil riba. Saya memang bukan yang hobi utang, tapi saya melihat orang disekitar saya banyak yang menderita karena hutang riba ini, bahkan tetangga saya ada yang sampai bunuh diri karena terlilit hutang riba. Dari sini saya banyak melakukan perubahaan pada keuangan seperti tidak lagi ikut arisan (karena saya kurang yakin dengan arisan), Selain itu saya tidak menggunakan kartu kredit, karena menghindari berhutang tadi. Ya masa, begaya dari uang hasil hutang, apa kata dunia?
Sejalan dengan filosofi saya tentang hijrah, Bank Muamalat juga meluncurkan program #AyoHijrah untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya hijrah menjadi lebih baik. Saya excited sekali dengan program #ayohijrah ini karena sangat membantu dan memfasilitasi orang-orang seperti saya yang ingin berhijrah. Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang program #ayohijrah dari Bank Muamalat ini. 


#Ayohijrah bersama Bank Muamalat

#Ayohijrah adalah salah satu program unggulan dari Bank Muamalat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berhijrah dalam segala aspek kehidupan termasuk keuangan. Kampanye #ayohijrah ini diluncurkan pada 8 Oktober 2018 silam. Selain dalam hal keuangan, kampanye #ayohijrah ini juga mengajak masyarakat untuk berubah ke arah yang lebih berkah dan lebih baik sesuai dengan ajaran agama Islam.

Sebagai bank pertama yang menerapkan hukum syariah pada perbankan di Indonesia, Bank Muamalat merasa perlu untuk menggaungkan kampanye #AyoHijrah. Dengan kampanye ini, Bank Muamalat memperluas fungsi bank dari sebatas penyedia layanan perbankan syariah menjadi penggerak semangat umat untu berhijrah ke arah yang lebih baik dan menyeluruh berdasarkan ajaran agama Islam termasuk dalam mengelola keuangan.


Sumber
Makna dari kampanye #AyoHijrah ini adalah berubah menjadi ‘lebih baik’ bagi seluruh umat Islam yang ada di Indonesia. Kita semua tahu bila agama Islam tidak sekedar mengatur masalah agama saja, namun juga mengatur gaya hidup atau way of life umatnya. Berawal dari sini, Bank Muamalat ingin mengajak masyarakat muslim di Indonesia untuk memperbaiki gaya hidup termasuk dalam hal keuangan. Hal ini karena masih banyak orang yang menggunakan sistem keuangan sekuler dari perbankan konvensional. Padahal sistem riba yang masih digunakan bank konvensional itu diharamkan dalam agama Islam.

Dalam program ini, Bank Muamalat menyediakan beberapa produk dan layanan hijrah dengan nama yang baru seperti berikut ini.
  • Tabungan iB Hijrah
  • Tabungan iB Hijrah Rencana
  • Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah
  • Tabungan iB Hijrah Prima
  • Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah
  • Giro iB Hijrah 
  • Deposito iB Hijrah
  • Pembiayaan Rumah iB Hijrah Angsuran Fix and Fis dan Super Ringan (Masih dalam pengajuan ke OJK)
Selain layanan hijrah diatas, gerakan #Ayohijrah juga mempunyai beberapa kegiatan yang berhubungan dengan hijrah. Antara lain:
  • Open booth di pusat kegiatan masyarakat sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi #Ayohijrah dengan mudah.
  • Seminar/Edukasi perbankan syariah
  • Pemberdayaan mashid sebagai agen perbankan syariah
  • Kajian Islami dengan narasumber ulama
Gerakan #Ayohijrah ini dikemas dengan kegiatan interaktif yang mengajak serta melibatkan masyarakat untuk meningkatkan diri dalam berbagai aspek kehidupan, khususnys mulai menggunakan bank syariah. Sehingga keuangan bisa lebih teratur dan hidup menjadi lebih berkah dan tenang.

Tentang Bank Muamalat

Kehadiran Bank Muamalat di Indonesia bagai oase ditengah gurun. Bagaimana tidak, bila di negara yang mayoritas beragama Islam, layanan perbankan syariah bisa dikatakan masih terbatas dan belum menyeluruh. Sehingga dengan adanya Bank Muamalat ini, umat Islam di Indonesia bisa melakukan aktivitas perbankan dengan lebih tenang dan aman.

Bank Muamalat sendiri adalah bank pertama yang menerapkan hukum perbankan syariah murni di Indonesia. Didirikan pada tahun 1992, Bank Muamalat tidak menginduk pada bank lain sehingga program syariah-nya tetap terjaga. Penerapan prinsip ekonomi syariah serta pengelolaan dana di Bank Muamalat ini diawasi dan dikawal oleh Dewan Pengawas Syariah. Meski  menerapkan prinsip ekonomi syariah, Bank Muamalat juga mempuyai fasilitas keuangan yang lengkap seperti internet banking, mobile banking, hingga kantor cabang dan jaringan ATM yang tersebar diseluruh Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.

Apa yang Membedakan Bank Muamalat dengan Bank yang Lain?

Dulu saya tidak pernah mengira bila menggunakan layanan bank syariah seperti Bank Muamalat itu penting. Saya pikir selama namanya bank, maka layanan yang diberikan sama saja. Padahal saya salah besar. Sebagai bank syariah, Bank Muamalat menggunakan sistem perbankan sesuai dengan syariah Islam yang sudah dijelaskan dalam Al-Quran dan Hadis. Salah satu yang membedakan Bank Muamalat dengan yang lain adalah dari cara kerjanaya. Cara kerja Bank Muamalat dibagi menjadi beberapa istilah yaitu: 

  • Akad - Akad adalah semacam persetujuan antara bank dan nasabah yang dilakukan sesuai syariat Islam saat membuka rekening tabungan, pinjaman, dan akad keuangan yang lain. Akad keuangan ini dibagi menjadi beberapa jenis seperti Akad Muhabahah, Akad Musyarakah, Akad Musyarakah Mutanaqisah. dan Akad Mudharabah.  
  • Margin - Margin adalah besaran untung yang sudah disetujui dari transaksi dan juga dari bank. Margin ini sifatnya tetap sepanjang waktu pelaksaanaan kegiatan perbankan. 
  • Nisbah - Nisbah adalah porsi bagi hasil antara dana hasil dan bank. 
Berhijrah dalam hal apa saja, khususnya keuangan memang bukan hal mudah. Selalu ada banyak rintangan dan gejolak dari diri sendiri maupun orang lain. Dengan program #Ayohijrah ini, Bank Muamalat membantu umat Islam untuk berhijrah dalam hal keuangan dan perbankan secara khusus dan kehidupan secara umum. Sehingga tidak perlu ada lagi keraguan dalam sistem perbankan dan dalam mengatur keuangan. 

Yuk, mumpung sebentar lagi bulan Ramadan datang, mari persiapkan diri untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan #Ayohijrah bersama Bank Muamalat. 

I'll see you on the next post. Bye.

Monday, 22 April 2019

Kenapa Sih Kita Harus Repot-Repot Baca Label Kosmetik?

Selama ini kita sering kali dihimbau untuk selalu membaca label kosmetik dan skincare. Padahal membaca sederet istilah kimia dalam tulisan yang kecil-kecil pada kemasan kosmetik bukanlah hal yang mudah. Membaca label kosmetik bagi saya tuh berasa seperti balik ke masa sekolah dimana. Ya, iyalah wong hampir semua isinya adalah istilah kimia. Pasti berasa lagi mengulang pelajaran kimia SMA.
Kenapa harus baca label kosmetik, pretty-moody.com, label kosmetik
Kenapa harus baca label kosmetik?
Untuk orang awam macam kita-kita ini yang tidak mempunyai background pendidikan di bidang kimia, pasti membaca label kosmetik itu sulit. Belum lagi kita juga harus tahu apa manfaat apa saja yang ada pada bahan-bahan tercantum tersebut. Memang sih dengan satu klik di halaman pencarian, kita bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang bahan kimia pada kosmetik dan skincare. Tapi tetap aja sih, susah dan ribet.

Lalu, kenapa sih kita harus repot-repot membaca dan memahami label kosmetik?

Baca juga: Ini yang terjadi ketika kamu berhenti pakai skincare

Mencegah korban iklan

Hayo ngaku siapa yang sering banget jadi korban iklan? Saya termasuk salah satu yang sering banget jadi korban iklan. Memang sih klaim kosmetik atau skincare di iklan tuh bikin buta mata hati. Dengan segala istilah yang ada seperti memutihkan, mencerahkan, ampuh menghilangkan jerawat, dan sebagainya, kita sering kali langsung membeli suatu produk tanpa melihat labelnya. Sehingga waktu memakai produk langsung deh ketahuan kalau tidak cocok. Padahal kalau kita jeli membaca label kemasan, hal ini bisa dihindari lho.

Lebih peka dengan strategi marketing kosmetik

Selain mencegah jadi korban iklan, membaca label kosmetik juga bisa membuat kamu lebih peka dengan strategy marketing. Bagaimanapun juga kosmetik dan skincare adalah dagangan dari suatu perusahaan yang pastinya ingin membuat keuntungan sebanyak-banyaknya. Sehingga untuk menarik minat konsumen, mereka menggunakan berbagai strategy marketing. Misalnya produk dengan label ‘natural’, padahal bila dilihat lebih lanjut bahan-bahan yang digunakan bisa saja bukan bahan alami atau natural.

Baca juga: Cara menghilangkan komedo di rumah

Waspada dengan bahan-bahan kimia berbahaya

Sekarang ini masih banyak lho kosmetik yang menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya. Dari mana kita tahu kalau suatu produk mengandung bahan berbahaya atau tidak? Ya, dari daftar ingredientsnya kan. Meskipun enggak paham-paham amat tentang bahan kimia kosmetik, tapi kalau kita sudah terbiasa membaca label pasti bisa niteni apa saja bahan berbahaya yang bisa memicu iritasi pada kulit. Misalnya kalau di kulit saya, saya alergi dengan SLS/SLES/dan ALS. Jadi selalu saya usahakan menghindari skincare yang mendandung bahan ini.

macam label kosmetik, pretty-moody.com
Macam Label Kosmetik

Tahu simbol-simbol kecantikan

Tidak hanya gebetan saja yang penuh dengan simbol-simbol, tapi juga dalam dunia kecantikan. Kalau dicermati lebih lanjut, kemasan kosmetik dan skincare yang biasa kita pakai itu mengandung banyak simbol-simbol. Misalnya simbol PAO (product after opening), simbol cruelty free, simbol recycle, simbol halal, dan sebagainya.

Paham konsentrasi bahan kimia dalam kosmetik

Secara umum konsentrasi bahan kimia pada kosmetik dan skincare diurutkan dari konsentrasi paling banyak hingga ke paling sedikit. Jadi pada urutan empat dari awal adalah bahan utama dalam skincare dan kosmetik. Selanjutnya adalah bahan-bahan pendukung. Misalkan suatu produk mengklaim mengandung aloe vera, padahal pada daftar ingredients aloe vera terletak pada bagian paling akhir. Artinya konsentrasi aloe vera paling sedikit tapi dijadikan trik marketing untuk menarik perhatian konsumen.

Baca juga: Rekomendasi makeup untuk pemula

Mencegah salah beli produk

Membaca label kosmetik dan skincare dengan teliti juga membantu mencegah salah beli produk. Jujur deh, sudah berapa banyak kosmetik atau skincare yang sudah dibeli tapi ternyata tidak dipakai dengan berbagai macam alasan. Buanyak banget kan. Nah, membaca label produk membantu kamu untuk membeli produk yang salah.

Meskipun terkadang sering malas membaca label kosmetik dan skincare, tapi paling tidak kamu tahu gambaran bahan dalam produknya. Sehingga kamu tidak lagi jadi korban iklan dan salah beli produk. Yuk, jadi konsumen cerdas dan lebih teliti lagi dalam membaca label kosmetik.

I'll see you on the next post. Bye

Saturday, 13 April 2019

Apa yang Terjadi Ketika Kamu Berhenti Pakai Skincare?


Pernah enggak terpikir untuk mengurangi atau bahkan berhenti pakai skincare?

Saya kepikiran tentang hal ini beberapa waktu yang lalu. Alasannya sih simple, saya hanya ingin mengurangi intensitas zat-zat kimia yang masuk ke dalam tubuh. Yah gimana ya, skincare yang saya pakai sebagian masih mengandung parfum, paraben, pewarna, dan sejenisnya. Padahal apapun yang dioles atau digunakan meski secara topikal akan masuk kedalam tubuh –CMIIW-.



Jadilah beberapa minggu yang lalu, saya memutuskan untuk hanya benar-benar seminimal mungkin menggunakan skincare. Saya hanya pakai pembersih, sunscreen, pelembab, bedak, lipstick, dan alis. Bahkan saya juga memutus hubungan dengan foundation dan makeup lain. Lalu apa yang terjadi dengan kulit saya?
Less is More
Pada beberapa segmen hidup, jargon less is more mungkin tepat digunakan. Ya, semata-mata biar kita enggak hidup dengan cara berlebihan. Ye khan? Tapi ketika memutuskan untuk mengurangi bahkan tidak menggunakan skincare mungkin tidak bisa dilakukan untuk semua orang.
‘Saya aja cuma pakai bedak bayi tapi kulit semulus tembok baru dicat’
Pasti pernah kan ya ada orang yang komen seperti itu? Atau nemu komen yang sejenisnya. Demi Tuhan, berbagialah kamu yang kulitnya enggak rewel meski cuma pakai bedak bayi aja.

Faktanya setiap kulit itu berbeda-beda. Ada yang langsung kinclong hanya pakai bedak bayi, ada yang butuh seiprit skincare, dan ada juga yang butuh berbotol-botol skincare agar bisa jadi mulus. Dan, kulit saya termasuk dalam tipe yang terakhir.

Jadi, selama beberapa minggu ‘puasa’ menggunakan skincare, ada beberapa efek yang saya rasakan.

Komedo tumbuh subur

Hal pertama yang saya perhatikan setelah meminimalkan penggunaan skincare adalah komedo yang langsung tumbuh subur. Padahal beberapa waktu yang lalu, komedo saya sempet bersih dengan metode pembersihan komedo di rumah. Tapi kemudian langsung tumbuh subur setelah stop pakai skincare.

Padahal saya cuma pakai sunscreen, bedak, dan double cleansing. Tapi nyatanya komedo tetap tumbuh dengan subur. Saya menyimpulkan, selain makeup, debu dan kotoran menyebabkan komedo tumbuh subur. Jadi meskipun pakai double cleansing, tapi kalau tidak pakai scrub atau skincare yang lain, komedo tetap ada.

Mudah Jerawatan

Kulit saya sebenarnya bukan tipe yang mudah jerawatan. Saya hanya jerawatan kalau sebelum datang bulan aja. Tapi kalau rajin pakai skincare, saya tidak berjerawat bahkan ketika datang bulan. Eh lha tapi saat lepas dari skincare, jerawat segede jagung pada tumbuh. Selain jerawat besar, jerawat kecil dan bruntusan juga jadi bermunculan.

Kulit kering dan kasar

Dampak nyata dari tidak menggunakan skincare pada kulit saya adalah kulit kering dan kasar. Yha emang dasarnya kan kulit saya kering. Jadi bila enggak pakai skincare jadi semakin kering dan kasar. Rasa kasarnya sebagian karena kulit kering dan sebagian karena bruntusan. Kalau menyentuh kulit rasanya jadi enggak nyaman banget.

Lesson learned

Kalau sudah berhubungan dengan kulit dan skincare, sebaiknya adalah mengetahui apa yang dibutuhkan oleh kulit masing-masing. Misal si A kulitnya baik-baik saja meski cuma pakai bedak bayi aja, ya belum tentu kulit kamu efeknya sama. Selain itu, jenis skincare yang dipakai juga tidak bisa disamakan dengan orang lain. Bisa aja kamu butuh dua jenis serum tapi orang lain cuma pakai satu.

Selain itu, istilah less is more dalam perawatan wajah juga tidak sepenuhnya benar dan salah. Kalau yang kulitnya bisa terima sedikit skincare, ya, lucky you. Tapi kalau kulitnya butuh beberapa skincare, ya, terima aja sis daripada kulit jadi bermasalah. Jadi, ya kita harus benar-benar peka dengan apa yang dibutuhkan kulit masing-masing.  

I'll see you on the next post. Bye.